GOSPA


Gospa adalah sebutan bagi Bunda Maria, “Yang Dikandung Tanpa Noda” bagi penduduk Kroasia. Sebagaimana dalam Kitab Suci dikatakan bahwa Maria adalah Bunda Yesus Kristus, Yang dikandung bukan dari seorang pria melainkan dari Roh Kudus (bdk Mt 1, 18-25). Walaupun Maria tidak sering disebut dalam Injil, ia tampil hanya dalam beberapa peristiwa namun amat penting: Maria, yang ‘penuh rahmat’, diberitahu oleh Malaikat Gabriel bahwa ia dipilih Allah di antara semua wanita untuk melahirkan Allah-Putera ke dalam dunia ini sebagai manusia. Dalam film Gospa dikisahkan enam orang anak kecil yang menyaksikan penampakan Bunda Maria, “Yang Dikandung Tanpa Noda”.

Awalnya tidak ada yang percaya mengenai penampakan Bunda Maria yang disaksikan oleh keenam anak kecil tersebut, termasuk para imam yang berkarya di paroki mereka. Kesaksian ke enam anak kecil itu tersebut tersebar di mana-mana sehingga banyak orang berbondong-bondong datang ingin melihat mukjizat penampakan itu. Akan tetapi banyaknya peziarah yang datang ke tempat itu menjadi masalah tersendiri bagi Gereja karena dianggap “membahayakan” pemerintahan komunis yang berkuasa pada waktu itu. Di sinilah terjadi “benturan” antara Gereja dengan Pemerintah Komunis. Pemerintah komunis takut dengan banyaknya peziarah yang otomatis umat beriman dan beragama datang ke negara Yugoslavia sangat mengancam keberadaan pemerintah komunis yang tidak percaya dengan Tuhan. Lalu tampillah Pastor Jozo Zovko membela ke enam anak kecil itu, walau dia sendiri tidak menyaksikan penampakan tapi Pastor Jozo membela kejujuran anak kecil. Keberanian Pastor Jozo itu harus dibayar mahal dengan penyiksaan dan kurungan penjara yang dia alami.

Keberanian Jozo Zovko adalah tindakan kenabian (Refleksi)

Dalam pelajaran kali ini, (sebagai bahan paper siswa) saya tidak menyoroti tentang penampakan Bunda Maria, tetapi lebih melihat sikap keberanian Pastor Jozo Zovko yang rela menanggung siksaan daripada membohongi hati nuraninya. Keberanian dan ketegasan Pastor Jozo ini dapat diangkat menjadi teladan bagi setiap orang beriman. Sikap Pastor Jozo adalah bentuk perlawanan tanpa kekerasan terhadap pemerintahan komunis pada waktu itu. Perlawanan Bapa Jozo Zovko terhadap perlakuan buruk yang diterimanya dari pemerintah komunis mengingatkan orang-orang kristiani pada tradisi perlawanan dari nabi-nabi Perjanjian Lama yang selalu muncul setiap kali masyarakat mengalami kemerosotan moral-religius-sosial, politis, budaya, dll. Para nabi itu muncul bukan karena mereka ‘ingin merebut kekuasaan, melainkan karena berdasarkan imannya merasa terpanggil untuk membuka mata terhadap perlakuan yang tidak adil. Iman para nabi itu tentu iman kepada Allah. Sehingga dapat dikatakan bahwa para nabi diutus oleh Allah sendiri dalam mengatasi situasi ‘kacau’ saat itu. Jadi para nabi itu memperoleh rahmat khusus dari Allah lalu secara bebas menanggapi rahmat tersebut secara benar lewat pergulatan hidup mereka dengan Allah sehingga merasa terpanggil untuk hadir saat itu dalam melepaskan umat Allah dari belenggu penindasan. Bentuk ketidakadilan dan terutama tradisi perlawanan telah ada di dalam umat Perjanjian Lama lewat kehadiran para nabi itu. Hal ini pun menunjukkan bahwa Allah tidak menghendaki bentuk penindasan atas diri manusia, buktinya dengan mengutus para nabi. Tradisi itu tetap berlangsung dalam masa Perjanjian Baru, yaitu kritik Yesus terhadap para pemimpin agama Yahudi. Jadi tradisi perlawanan sebagai tanda tidak setuju terhadap bentuk ketidakadilan misalnya, tidak hanya dilakukan oleh manusia tetapi juga oleh Allah walaupun tentu saja bentuknya berbeda-beda.

Refleksi dari peristiwa Bapa Jozo Zovko adalah kita harus semakin kritis melihat adanya suatu ketidakadilan yang terjadi dalam masyarakat dan semakin berani melawan keadaan itu dalam menegakkan keadilan dan kebenaran sehingga pada akhirnya tradisi tersebut terus terpelihara, demi perkembangan dan keutuhan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah yang paling luhur.

Bagaimana Dengan Kita? (Refleksi terhadap situasi di Indonesia)

Kehidupan masyarakat kita masih kental dengan nuansa keagamaan, namun sering terjadi kesalahan dalam memahami agama dan kepercayaan serta imannya. Banyak orang bersikap eksklusif terhadap agamanya masing-masing. Kenyataan yang terjadi adalah munculnya semangat komunalisme, yakni semangat memutlakkan kebenaran agama dan menyalahkan bahkan memusuhi agama orang lain. Selain itu, banyak terjadi bahwa agama serta iman digalang menjadi kekuatan politik untuk menguasai, menekan, mendiskriminasikan, menghambat perkembangan bahkan melenyapkan agama serta iman yang berbeda. Hal seperti ini tentu tidak menciptakan keharmonisan dan kebahagiaan bersama. Padahal yang diharapkan dan dicita-citakan adalah semua umat beragama sebagai umat beriman, seharusnya hidup berdampingan, saling menghormati, dan saling menghargai. Sebagaimana yang diyakini orang yang beriman inklusif bahwa ajaran agama yang ada dalam Kitab Suci selalu dipahami sebagai ajaran yang mengajak orang untuk hidup rukun dan damai. Sebenarnya, iman itu berfungsi untuk membangun orang untuk semakin berkualitas hidupnya, sehingga dapat menciptakan kerukunan dan kedamaian. Banyak tokoh telah memperjuangkan kerukunan dan perdamaian ini, dengan segala pengorbanan dan resiko yang harus dipikulnya, misalnya Paus Yohanes Paulus II (alm.), yang diakui dunia sebagai pejuang perdamaian bagi semua manusia, Ibu Teresa (alm.) yang mendapatkan penghargaan karena perjuangannya mengangkat martabat kaum miskin di India, Romo Mangun Wijaya (alm.), yang dikenal sebagai pembela kaum miskin, lemah, dan tersingkir; ataupun Romo Van Lith (alm.) yang terkenal memperjuangkan kaum pribumi untuk setara dengan bangsa Belanda yang merupakan bangsanya sendiri sehingga dia dikenal sebagai orang londo yang berjiwa pribumi, dan tentu saja masih banyak tokoh-tokoh lain. Akhirnya seperti Pastor Jozo Zovko yang juga dapat disebut pejuang kemanusiaan tetap teguh terhadap pendiriannya dalam membela sebuah kebenaran walau itu harus dilalui dengan penderitaan, penyiksaan selama di penjara, bahkan kalau perlu sampai kematian. Itulah inti iman seorang murid Kristus.

Iman biasanya DIPUJI dalam kata-kata

DIMULIAKAN dalam tulisan, tapi

DIKHIANATI dalam perbuatan!

Catatan : Para siswa silahkan memberikan tanggapan dan menulis di buku tugas religiositas!

0 komentar:

Poskan Komentar

Laskar Pelangi

Salam Jumpa

Foto saya
"Kesempurnaan Manusia adalah Mengetahui Ketidaksempurnaannya", St. August.

GUEST