Ajaran Sosial Gereja



Pengantar

Gereja di Keuskupan Agung Semarang dalam bulan Agustus 2010 akan membahas tentang Ajaran Sosial Gereja (ASG). Apa itu ASG?
Selamat menyimak...

Arti kemiskinan

Gereja Katolik selalu menyebut kemiskinan sebagai kemiskinan struktural. Artinya, orang miskin bukan miskin karena nasib, takdir atau kemalasan, tapi karena proses pemiskinan yang dilakukan oleh negara. Orang miskin kehilangan akses sosial, politik dan ekonomi karena hak-haknya direnggut oleh negara. Seluruh daya, karsa dan cipta orang miskin seketika mati saat akses-akses itu tertutup. Tujuan didirikannya sebuah bangsa adalah untuk kesejahteraan warganya, maka segala peraturan, keputusan dan kebijakan penguasa haruslah berdampak pada semua lapisan masyarakat secara adil.
Soal pendidikan, misalnya, negara harus membuat peraturan dan kebijakan yang adil dan merata agar setiap warga negara memperoleh kesempatan yang sama untuk menikmati pendidikan. Seperti tertulis dalam UUD'45, negara wajib menyediakan pendidikan dan pekerjaan yang layak bagi warga negaranya. Tidak seperti sekarang, biaya pendidikan mahal sehingga orang miskin semakin sulit mengangkat derajat hidupnya karena berpendidikan rendah. Di negara maju atau yang biasa disebut negara kesejahteraan (welfare state), ada dana sosial yang disediakan untuk mensubsidi biaya kesehatan, pendidikan dan jaminan pensiun bagi warga negaranya. Di Indonesia, 60% APBN setiap tahun habis untuk membayar bunga utang luar negeri saja. Subsidi kebutuhan bagi orang miskin (BBM, listrik) dicabut oleh negara demi mencukupi pembayaran utang. Anggaran untuk pembayaran utang sebesar 2,8 kali anggaran pendidikan, 10,6 kali anggaran kesehatan, 32,7 kali anggaran perumahan dan fasilitas umum, 119,8 kali anggaran tenaga kerja, dan 27,7 kali anggaran lingkungan hidup.
Inilah yang disebut kemiskinan struktural yaitu saat negara menyebabkan warganya menjadi semakin miskin. Kemiskinan struktural ini sudah lama diserukan oleh Gereja Katolik lewat ensiklik-ensiklik yang biasa disebut Ajaran Sosial Gereja (ASG). Sayangnya, ASG tidak populer di kalangan umat meski ajaran-ajarannya selalu berlaku universal alias kontekstual dengan jaman sekarang.

Latar Belakang Munculnya Ajaran Sosial Gereja

Ajaran Sosial Gereja dalam dunia modern berawal pada tahun 1891, ketika Paus Leo XIII dalam ensikliknya Rerum Novarum dengan tegas menentang kondisi-kondisi yang tidak manusiawi yang menjadi situasi buruh dalam masyarakat industri. Dalam ensiklik itu Paus menyatakan 3 faktor kunci yang mendasari kehidupan ekonomi, yaitu buruh, modal dan negara. Paus juga menunjukkan keterkaitan ketiga hal itu sebagai masalah pokok Ajaran Sosial Gereja. Karena prinsip-prinsip yang dikemukakan adalah petunjuk-petunjuk untuk menciptakan masyarakat yang adil, dokumen itu terkenal sebagai “Magna Charta” untuk membangun kembali tatanan ekonomi dan sosial.
Ajaran Sosial Gereja muncul mulai dari perhatian pada hak-hak pekerja dalam ensiklik Rerum Novarum, selanjutnya meluas pusat perhatiannya pada masalah-masalah perkembangan dan keadilan ekonomis antar bangsa, teknologi dan perlombaan senjata, makin melebarnya jurang antara kaum kaya dan kaum miskin dan kritik terhadap komunisme maupun kapitalisme. Dan inti dari Ajaran Sosial Gereja dan pendasaran sikap pro-life adalah keyakinan yang mendalam tentang nilai luhur setiap manusia yang diciptakan menurut citra Allah (GS 12). Maka perlu sekali Ajaran Sosial Gereja dikenal oleh setiap orang Katolik.

Siapa Orang Miskin dalam Kitab Suci

Banyak gambar mengenai orang miskin dan kemiskinan tampil dalam Kitab Suci. Sangat mencolok dalam Kitab Suci Perjanjian Lama gambar orang miskin dalam hubungannya dengan Allah. Allah memperhatikan, melindungi, dan membela orang miskin dan malang. Allah berbelas kasih terhadap orang-orang miskin, orang lemah, anak yatim piatu, para janda dan pengungsi. Kepada Allah semacam itu orang-orang miskin menaruh harapan. Dalam Injil sangat mencolok hubungan orang-orang miskin dengan Yesus. Kaum miskin yang dihadapi Yesus adalah orang-orang miskin secara fisik, ekonomis, sosial, politis dan religius. Mereka berdiri dalam barisan terdepan, sebagai alamat yang dituju oleh kabar gembira Yesus. Bangsa Yahudi pada zaman Yesus merupakan bangsa yang dijajah dan ditindas oleh penjajah Roma. Penderitaan rakyat miskin juga dialami dalam bentuk banyak penyakit. Yesus dekat dengan orang-orang sakit, dengan kaum marginal yang tidak diikutsertakan dan tidak mempunyai suara dalam kehidupan politis. Mereka adalah miskin dalam arti sesungguhnya, yakni fisik material, dan karena itu juga secara sosial tersingkir. Termasuk yang secara sosial miskin adalah mereka yang dijauhi dan disingkirkan dari pergaulan masyarakat, karena mereka dianggap pendosa. Kepada orang-orang berdosa Yesus tidak membawa pengadilan, melainkan pengampunan. Yesus dekat dengan mereka yang mengalami kemiskinan religius. Melalui Yesus dan dalam diri Yesus, orang-orang miskin dan menderita mengalami tanda-tanda datangnya Kerajaan Allah, yakni bahwa Allah sedang hadir dan bertindak, sedang memperlihatkan kuasa dan kasih yang menyelamatkan mereka. “Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Luk. 7:22).
Mendahulukan Kaum Miskin
Dalam perumpamaan mengenai orang Samaria yang baik hati (Luk. 10: 25-37) tampak jelas sekali, bahwa mendahulukan orang tak berdaya tanpa pertolongan adalah wujud cinta kepada sesama. Pertanyaan seorang ahli Taurat “siapakah sesamaku manusia” dijawab oleh Yesus, siapakah sesama bagi orang yang jatuh ke tangan penyamun, dirampok habis-habisan, dipukuli dan ditinggalkan setengah mati itu. Bukanlah seorang imam dan seorang Levi yang dianggap suci oleh masyarakat. Melainkan orang Samaria, yang dianggap kafir, yang menunjukkan belas kasih. Mencintai sesama berarti menjadi sesama bagi orang yang setengah mati, tak berdaya, tanpa pertolongan. Mendahulukan orang miskin tidak lain adalah wujud mencintai sesama sebagaimana Yesus mencintai sesamanya.

Pilihan mendahulukan orang miskin bukanlah pilihan mengecualikan orang kaya dari rencana penyelamatan Allah. Pilihan mendahulukan orang miskin adalah sikap dan tindakan mengikuti Yesus yang memaklumkan Kerajaan Allah. Pemakluman itu merupakan suatu undangan untuk siapa saja, agar terjadi persaudaraan di antara semua orang, di mana jurang antara yang kaya dan miskin terjembatani, di mana tidak ada lagi pemeras dan yang diperas, penindas dan yang ditindas, di mana semua orang “makan bersama”. Orang kaya dapat bergembira dan berbahagia menemukan solidaritas Allah sendiri dalam solidaritasnya dengan kaum miskin.
Dengan demikian kita dapat mengerti mengapa Allah melalui Yesus memilih dan mendahulukan kaum miskin. Dalam orientasi dan kesetiakawanan terhadap orang miskinlah persaudaraan semua orang dibangun. Pilihan kita mendahulukan kaum miskin berakar pada Allah sendiri, Allah itulah yang memilih dan menyelamatkan, bukan kekayaan, kuat-kuasa dan prestasi manusia. Tidak peduli terhadap kaum miskin dengan demikian berarti tidak peduli terhadap Allah, adalah atheisme praktis. Perjuangan mengatasi kemiskinan merupakan jalan mengikuti rencana Allah melalui Yesus, jalan murid-murid Yesus

Kesaksian Iman Gereja

Ajaran Sosial Gereja memberikan ikhtisar tentang arah utama ajaran Sosial Gereja, yang memperkokoh dasar-dasar pandangan sosial Katolik. Dari ajaran sosial Gereja ini dapat ditemukan hubungan dinamis antara Gereja dan dunia, termasuk di Indonesia. Maka di tengah situasi konkret di Indonesia ini bagaimana mungkin ajaran sosial Gereja dapat diterapkan di bidang sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan sehingga iman menjadi hidup dan melahirkan tindakan kasih di tengah dunia yang sedang berubah.
Sejauh mana pula pentingnya ajaran Sosial Gereja bagi umat beriman dalam mencermati masalah-masalah sosial yang ditemukan? Dan apakah ada kelompok orang beriman yang sedang dan mau mencari ajaran-ajaran sosial di sekitar persoalan-persoalan atau masalah-masalah sosial? Lalu di antara sekian dokumen tentang ajaran sosial Gereja, manakah yang paling berbicara langsung mengenai masalah-masalah sosial yang konkret dan aktual?

Kesimpulan
Kata-kata Paus Paulus VI dalam Syahadat Imannya, mengungkapkan dengan sangat jelas iman terhadap Gereja. Orang tidak dapat menyimpang darinya tanpa menimbulkan kemalangan-kemalangan baru dan bentuk-bentuk baru perbudakan, di samping malapetaka rohani.
"Kami menyatakan iman kami bahwa Kerajaan Tuhan, mulai di dunia ini dalam Gereja Kristus, tidak berasal dari dunia, yang bentuknya sementara, dan bahwa pertumbuhannya tidak boleh dianggap sama dengan kemajuan peradaban, ilmu pengetahuan atau teknologi manusia tapi menampakkan diri dalam semakin memahami kekayaan Kristus yang tak dapat diukur, dalam mempunyai pengharapan yang semakin kokoh terhadap hal-hal abadi, dengan semakin bersemangat menjawab cinta Tuhan, dengan menyebarkan rahmat Tuhan seluas mungkin dan kesucian di antara orang-orang. Oleh cinta kasih yang sama Gereja digerakkan agar supaya terus menerus memperhatikan pula kesejahteraan umat manusia. Dengan tiada henti-hentinya mengingatkan anak-anaknya bahwa mereka tidak punya tempat tinggal abadi di dunia ini, Gereja mendorong mereka untuk juga ikut menyumbang, masing-masing orang sesuai dengan situasi dan sarana yang dimilikinya, untuk kesejahteraan kota duniawi ini, untuk memajukan keadilan, perdamaian dan persaudaraan di antara umat manusia, untuk memperbesar bantuan mereka kepada saudara-saudara mereka, lebih-lebih kaum miskin dan orang yang paling menderita. Keprihatinan Gereja yakni mempelai Kristus, yang mendalam terhadap kebutuhan-kebutuhan umat manusia, kegembiraan dan harapan mereka, penderitaan dan perjuangan mereka, tidak lain merupakan ungkapan keinginan yang besar untuk hadir bersama mereka guna menyinari mereka dengan cahaya Kristus, dan menggabungkan mereka semua pada Dia, Penebus mereka. Namun tidaklah berarti bahwa Gereja menyesuaikan diri dengan hal-hal duniawi, pun pula bahwa Gereja mengendorkan semangatnya, dengan mana Gereja menantikan Tuannya dan Kerajaan yang abadi”. Yesus telah bersabda :"Barangsiapa merawat saudaraku yang paling hina ini...ia telah merawat Aku".

2 komentar:

priyo nisme 19 November 2014 18.14  

Terima Kasih atas ilmunya, sangat membantu saya. salam
priyonisme@gmail.com

mampang 7 Maret 2016 17.50  

Pertanyaan saya, mengapa ajaran sosial gereja tidak populer dikalangan sendiri..

Poskan Komentar

Laskar Pelangi

Salam Jumpa

Foto saya
"Kesempurnaan Manusia adalah Mengetahui Ketidaksempurnaannya", St. August.

GUEST