MODUL TEATER 2




Modul Seni Teater
SMA Regina Pacis Surakarta

MODUL 2
KERAGAMAN TEATER TRADISI NUSANTARA

Standar Kompetensi
• Mengapresiasi karya seni teater

Kompetensi Dasar
•Mendeskripsikan unsur-unsur estetis teater dan sastra daerah setempat dari hasil
pengamatan pertunjukan.
•Mendeskripsikan pesan moral dari pertunjukan karya teater tradisi nusantara.

Indikator
•Mengidentifikasi keunikan karya sastra yang digunakan.
•Mengidentifikasi susunan latar dan seting yang digunakan.
•Mendeskripsikan perwatakan, penokohan, dan alur cerita.
•Mengidentifikasi pesan moral dalam pementasan teater tradisi.
•Mendeskripsikan tanggapan atas nilai-nilai atau pesan moral yang terkandung dalam
pementasan teater tradisi.
•Mengidentifikasi pesan moral dari pertunjukan teater.

Sekilas Info :
Teater tradisi nusantara yang memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri dan beraneka ragam. Keragaman itu tidak menjadi permasalahan bangsa, melainkan merupakan kekayaan budaya di nusantara ini, yang sekaligus dapat dijadikan alat pemersatu bangsa. Teater dan sastra daerah setempat selain memiliki keunikan dan kekhasan, juga memiliki unsur-unsur estetis yang menarik dan mengesankan. Oleh karena itu, sebagai warga bangsa hendaknya tidak hanya simpati terhadap teater-teater daerah, melainkan juga memiliki rasa empati. Mengapa demikian? Salah satunya adalah karena sikap tersebut akan mampu melahirkan kreativitas atau inovasi untuk memperkaya khazanah yang telah dimiliki. Sikap itu juga turut mendewasakan suatu hasil karya dan memberi nilai tinggi terhadap karya seni tersebut.

A. Mengungkapkan Unsur-Unsur Estetis Teater Daerah
Karya teater merupakan karya sastra yang di dalamnya mengandung nilai-nilai estetis. Estetik teater daerah setempat merupakan keindahan yang bermanfaat, yakni keindahan moral, keindahan susila, keindahan akal, dan keindahan alami. Agar dapat menemukan unsur-unsur estetis teater daerah, perlu mengadakan pengamatan terhadap pertunjukan-pertunjukan teater daerah setempat. Dengan mengadakan pengamatan, selain dapat menemukan unsur-unsur estetis, juga dapat menemukan keunikannya yang merupakan karya sastra daerah.

1. Keunikan Karya Sastra Daerah
Teater daerah yang merupakan karya sastra memiliki keunikan tersendiri. Keunikan teater daerah setempat dapat dilihat dari :
a.bentuk penyajiannya
b.cara penyajiannya
c.gerak fisiknya
d.latar dan settingnya
e.irama musiknya

Keunikan teater daerah itu tergantung dari jenis teater daerah itu sendiri. Untuk dapat menunjukkan keunikan suatu teater dengan baik, para penonton perlu menyimak dengan penuh kosentrasi atau memperhatikan secara seksama.

2. Latar dan Setting Teater Daerah

Latar merupakan penggambaran suatu pertunjukan teater atau pementasan drama. Latar ini mencakup dekorasi dan tata lampu (lighting), tata rias dan musik atau iringan. Latar ini dapat memberikan penjelasan pada penonton tentang suasana yang ada dalam suatu adegan yang sedang berlangsung.

Setting merupakan tempat pertunjukan teater berlangsung, dalam hal ini “panggung” atau “pentas”. Setting atau tempat juga merupakan salah satu unsur pokok dalam teater atau drama. Tanpa ada tempat, suatu teater tidak mungkin terjadi. Tempat atau setting itu bisa hanya berupa ruang yang terbuka dan sederhana. Jadi, tempat bagi para pemain yang mempertunjukkan permainannya disebut “panggung” atau “pentas”, sedangkan tempat bagi penonton yang menyaksikan pertunjukan itu disebut auditorium.

3. Perwatakan atau Penokohan (Karakterisasi) dan Alur Cerita (Plot)

Perwatakan atau penokohan adalah pelukisan atau penggambaran watak pada tiap-tiap tokoh. Dalam seni teater atau drama bertumpu pada penghayatan sosok tokoh yang diciptakan, baik secara langsung oleh pengarang atau penulis lakon, maupun tak langsung melalui percakapan antar tokoh. Karakterisasi sangat erat hubungannya dengan alur cerita (plot). Keduanya saling mendukung dan saling membutuhkan, di mana karakter akan menjadi jelas dalam plot dan plot akan lebih menarik apabila di dalamnya terdapat karakter-karakter yang menarik.

Alur cerita (plot) adalah jalinan cerita, mulai dari permulaan timbulnya konflik hingga akhir cerita. Sturktur alur pada seni teater atau drama sama dengan struktur alur pada novel atau cerpen, yaitu sebagai berikut:
a.Eksposisi atau perkenalan, yaitu bagian yang menentukan dan mempersiapkan insiden
permulaan.
b.Komplikasi (rising action), yaitu penonjolan laku atau penggawatan konflik-konflik
semakin menonjol dan semakin kompleks.
c.Klimaks, yaitu laku yang menanjak ke titik balik puncak konflik.
d.Penurunan/peleraian, yaitu bagian lakon yang merupakan tingkat penurunan dalam gerakannya menjelang akhir. Jalan keluar dari konflik-konflik mulai tampak jelas.
e.Penyelesaian/keputusan (catastrophe), yaitu bagian akhir lakon yang berfungsi mengembalikan lakon pada kemiripan keseimbangan awal. Bagian ini mengakhiri segenap kejadian lakon, memberikan jawaban yang diperlukan publik/penonton.

B. Mengungkapkan Pesan Moral dari Teater Nusantara
Karya teater tradisi yang banyak ragamnya, yang terdapat di nusantara mengandung pesan moral yang begitu tinggi, terhadap masyarakat pada umumnya dan pada penonton pada khususnya. Pesan moral ini diungkapkan melalui amanat-amanat dalam suatu cerita yang dipertunjukan. Misalnya, pada kisah “Baratayuda” dalam wayang kulit purwa Jawa. Dalam kisah itu mengandung pesan moral agar selalu menanamkan kebenaran dan kejujuran sekaligus selalu membela kebenaran dan kejujuran. Karena dengan kebenaran dan kejujuran akan mengalahkan kebatilan, yakni dapat menumpas “Kurawa”, yang merupakan lambang kebatilan, lambang kejahatan, walaupun itu saudara sendiri. Demikian juga pada kisah Ramayana, begitu banyak pahlawan kera yang membantu Rama Wijaya untuk berperang melawan raja Alengka, yaitu Rahwana untuk merebut isteri tercinta Rama Wijaya dari genggaman Rahwana, sekaligus menumpas kejahatan.Rama Wijaya, raja Ayodya, merupakan lambang kesucian dan kebenaran, sedangkan Rahwana, raja Alengka, sebagai lambang kejahatan. Kisah tersebut mengungkapkan pesan moral agar setiap manusia selalu mengedepankan kebenaran, kesucian dan kejujuran. Pada dasarnya setiap karya teater tradisi nusantara memiliki pesan moral sendiri-sendiri terhadap masyarakat pada umumnya dan penonton pada khususnya. Untuk dapat mengungkapkan pesan moral dari karya teater dengan tepat, hendaknya penonton secara cermat dan penuh apresiatif menyaksikan pertunjukan teater tersebut. Adapun nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sebagai berikut :

1. Nilai Moral
Nilai moral di sini adalah nilai yang berhubungan dengan budi pekerti, etika, dan susila. Setiap karya seni pasti mengandung nilai moral. Nilai moral yang ada dalam karya seni, khususnya karya teater dapat mengubah sikap dan perilaku penontonnya. Kalau nilai moralnya tinggi dapat membentuk perilaku penonton yang baik dan positif, tetapi kalau nilai moralnya rendah dapat membentuk penonton memiliki perilaku yang kurang baik. Karya teater tradisi memiliki nilai moral yang sangat tinggi.

2. Nilai Budaya
Setiap karya teater yang dipertunjukkan menampilkan budaya yang ada dalam kehidupan masyarakat di dalam cerita yang dipentaskan. Penonton dapat melihat budaya yang ada dalam kehidupan masyarakat dalam suatu cerita yang dipentaskan, memiliki budaya yang tinggi atau rendah, jika menonton pementasan ini secara lengkap dari awal hingga selesai. Memang nilai budaya itu terkandung di seluruh rangkaian cerita. Tanpa menyaksikan secara lengkap, tidak mungkin bisa mengungkapkan nilai budaya yang ada.

3. Nilai Sosial
Nilai sosial atau kemasyarakatan suatu karya teater sangat erat hubungannya dengan budaya yang ada dalam kehidupan cerita yang dipentaskan. Misalnya suatu karya teater mengandung budaya gotong-royong, hal itu berarti memiliki nilai kemasyarakatan yang tinggi, yakni masyarakatnya memiliki sifat suka menolong, suka bekerja sama dan tidak egois. Jika karya teater itu mengadung budaya pergaulan bebas, berarti masyarakatnya juga tidak menghormati norma-norma yang ada. Nilai budaya sekaligus mempengaruhi nilai sosial. Nilai budayanya tinggi maka nilai sosialnya juga tinggi, jika nilai budayanya rendah, nilai sosialnya juga rendah. Oleh karena itu perlu kepekaan yang tinggi, jika ingin dapat mengungkapkan nilai-nilai sosial budaya dengan benar.

4. Nilai Pendidikan/Paedagogis

Seni teater atau drama merupakan salah satu karya sastra yang di dalamnya memiliki nilai pendidikan baik secara umum yaitu pendidikan kewarganegaraan, kebangsaan dan kemasyarakatan; maupun secara khusus, yaitu pendidikan moral budi pekerti dan susila, dan pendidikan estetis. Hasil dari pendidikan adalah perubahan sikap. Oleh karena itu, pertunjukan teater atau drama dapat menghasilkan perubahan terhadap penonton, di mana diharapkan memiliki moralitas yang tinggi dan budi pekerti yang luhur.

5. Nilai Kemanusiaan/ Humanisme
Manusia atau kemanusiaan menjadi problematik sentral dalam karya seni teater atau drama, maka seni teater atau drama adalah seni kolektif yang sarat akan muatan nilai-nilai humanisme. Pada dasarnya sebuah seni teater atau drama yang termasuk dalam karya fiksi bertumpu pada penghayatan terhadap sosok-sosok tokoh yang diciptakan, baik secara langsung oleh pengarangnya maupun tidak langsung melalui percakapan antartokoh. Lakon-lakon yang terdapat dalam serial Ramayana dan Mahabarata, secara tematis filosofis sarat akan muatan nilai-nilai kemanusiaan. Tokoh-tokoh seperti Arjuna, Kresna, Semar, Werkudara, Gatotkaca, Hanoman, dan Puntadewa, merupakan tokoh idola masyarakat Jawa, bukan hanya karena kesaktiannya, tetapi juga nilai kemanusiaannya (humanisme).

6. Nilai Keindahan/ Estetis

Karya teater merupakan salah satu karya sastra yang di dalamnya mengandung nilai-nilai estetis. Keindahan di sini memiliki cakupan yang luas dan bermanfaat, yaitu keindahan moral, keindahan susila, keindahan akal dan keindahan alami. Bagi orang yang menyaksikan karya teater, khususnya karya teater tradisi, akan dapat menikmati keindahan yang ada di dalamnya, dan akhirnya mendapatkan kepuasan batin. Seni teater merupakan tempat bertemunya berbagai cabang seni, yaitu seni musik, seni tari, seni suara, seni panggung, seni lukis, dan seni peran. Perpaduan seni tersebut membawa suatu keindahan yang benar-benar menarik dan menjadikan kepuasan batin.
Demikianlah karya teater merupakan karya seni. Karya seni itu selalu bersangkutan dengan moral. Dasar dari keindahan dan moral adalah ketertiban. Jadi kesenian adalah keindahan yang berdasar pada ketertiban, sedangkan moral berdasar pada ketertiban batin. Dalam hal ini moral sungguh menanamkan budi pekerti yang baik atau selalu menanamkan kesesuaian dan pesan moral itu pula dapat kita temukan dalam suatu pertunjukan teater.
RANGKUMAN
1. Teater dan sastra daerah memiliki keunikan dan keindahan sendiri. Keunikannya antara lain dalam bentuk dan cara penyajiannya, gerak fisiknya, latar settingnya, serta irama musik pengiringnya. Adapun keindahan yang dapat ditemui antara lain keindahan moral, susila, serta keindahan alaminya. Teater tradisi juga dikenali dari latar dan settingnya yang masih tergolong sederhana, di mana pertunjukan diselenggarakan di pentas terbuka.
2. Dalam pertunjukan teater terdapat dua konsep penting, yaitu perwatakan atau penokohan (karakterisasi) dan alaur cerita (plot). Perwatakan atau penokohan adalah pelukisan atau penggambaran watak pada tiap-tiap tokoh, sedangkan alur cerita (plot) merupakan jalinan cerita Pada umumnya, dalam setiap struktur seni teater terdapat lima point penting, yaitu eksposisi (perkenalan), komplikasi (penonjolan konflik), klimaks, penurunan/peleraian, dan penyelesaian (keputusan) yang merupakan bagian akhir dari lakon.
3. Teater tradisi nusantara kaya akan pesan moral dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Misalnya dalam kisah Baratayuda pada wayang kulit purwa Jawa, di mana pesan moral yang dicoba disampaikan adalah menanamkan kebenaran dan kejujuran yang akan mengalahkan kebatilan. Adapun kekayaan nilai yang terkandung dalam teater tradisi nusantara antara lain nilai moral, budaya, sosial kemasyarakatan, pendidikan/pedagogis, kemanusiaan/humanisme, dan nilai keindahan/estetis.
Latihan Soal :
1.Apa yang kamu ketahui tentang teater tradisi jenis wayang kulit purwa Jawa ? Jelaskan !
2.Sebutkan hal-hal yang dapat dilihat untuk menunjukkan teater tradisi!
3.Apa yang kamu ketahui tentang tokoh “Bima” dalam wayang kulit purwa Jawa? Jelaskan
4.Pesan moral apa yang terdapat dalam kisah Ramayana?
5.Pendidikan apa yang dapat diambil dari teater tradisi?

Pergunakanlah kepandaianmu melucu untuk menggembirakan orang lain, bukan untuk melecehkan. Anonim

8 komentar:

Elias Anwar 3 November 2009 23.44  

Silahkan para siswa mempersiapkan bahan modul 2 ini untuk latihan ulangan semester.

Anonim 7 November 2009 19.39  

modulnya yang buat klaz X yg mna pak?

Angel 7 November 2009 19.40  

modul 2 ya pak?

happy 17 November 2009 00.57  

makasih.

Salim 18 November 2009 04.16  

Salim
terima kasih pak...

Anonim 21 November 2009 04.26  

cyntia,.
xg-09
makasih paakk,,.

lovely 22 November 2009 06.17  

ineke..
XG
makasih pak..

Iwan 4 Desember 2009 23.18  

Iwan
XG..
makasih pak..modul 1-2 sudah semua..

Poskan Komentar

Laskar Pelangi

Salam Jumpa

Foto Saya
Saya adalah makluk berpikir. Esensi manusia adalah MAKHLUK BERTANYA, pada saat manusia berhenti bertanya maka matilah dia!

GUEST